Cuma Sekedar Refleksi Kehidupan

Terbaru

Kisah Seekor Anak Beruang


Seekor anak beruang suka mencari-cari kesalahan. Dengan cekatan, ia akan mampu menunjukkan kesalahan teman-teman dan orang tuanya. Bahkan jika sesuatu terjadi pada dirinya, maka ia menyalahkan teman dan orang tuanya. “Aku jatuh karena Ayah meletakkan ember di sembarang tempat”, kata beruang kepada ayahnya saat ia terjatuh di kamar mandi.

“Kamu mengalami musibah ini karena kamu tidak berhati-hati. Oleh karena itu, kalau berjalan kamu harus hati-hati,” kata anak beruang kepada seekor kijang yang terkilir kakinya.

Pada suatu hari, anak beruang berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya. “Wah, madu lebah itu pasti sangat manis. Aku akan mengambilnya. Aku akan mengusir lebah-lebah itu!” Ia pun mengambil sebuah galah dan menyodok sarang lebah itu dengan keras. Ribuan lebah merasa terusik dan menyerang anak beruang.

Melihat binatang kecil yang begitu banyak, anak beruang lari terbirit-birit. Lebah-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Mereka menghajar dengan sengatan. “Aduh, tolong !”

Karena tak tahan, anak beruang itu menceburkan dirinya ke sungai. Byur! Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pergi meninggalkan anak beruang yang kesakitan.

“Mengapa ayah tidak menolongku? Jika ayah sayang padaku, pasti sudah berusaha menyelamatkanku. Semua ini salah ayah!” Ayah beruang diam sejenak, lalu mengambil selembar kertas putih.

“Anakku, apa yang kamu lihat dari kertas ini?”

“Itu hanya kertas putih, tidak ada gambarnya,” jawab anak beruang.

Kemudian, ayah beruang mencoret kertas putih dengan sebuah titik berwarna hitam.

“Apa yang kamu lihat dari kertas putih ini ?”

“Ada gambar titik hitam di kertas putih itu!”

“Anakku, mengapa kamu hanya melihat satu titik hitam pada kertas putih ini ? Padahal sebagian besar kertas ini berwarna putih. Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan ayah! Padahal masih banyak hal baik yang telah ayah lakukan padamu”. Lalu ayah beruang berjalan pergi meninggalkan anaknya yang duduk termenung.

Moral kisah ini :
Mari kita belajar mengoreksi diri sendiri sebelum kita menyalahkan orang lain. Jangan hanya melihat sisi buruk suatu masalah, tetapi kita perlu juga melihat sisi baiknya. Mengapa kita cenderung melihat semut di kejauhan, sedangkan gajah di pelupuk mata sendiri tak nampak?

Iklan

Dua Pilihan


Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu.

Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:

Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna / alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku?

Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.

Ayah tersebut melanjutkan: ‘Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia’. Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut :

Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,’Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?’ Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat. Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, ‘Kami telah kalah 6 putaran dan sekarang sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti.‘

Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya.

Pada kondisi yang seperti ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka? Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay.

Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu. Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu.

Lemparan pertama meleset. Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tersebut kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun kearah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali kearah pitcher.

Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tersebut bisa saja dengan mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir.

Sebaliknya, pitcher tersebut melempar bola melewati baseman pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, ‘Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!’. Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya. Semua orang berteriak, ‘Lari ke base dua, lari ke base dua!’

Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya.

Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga.

Semua yang hadir berteriak, ‘Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay’ Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, ‘Shay, larilah ke home, lari ke home!’.

Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan kedalam dunia.

Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.

Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara mereka.

Catatan kaki:

Kita sering mengirim ribuan jokes lewat email tanpa pikir panjang, namun bila kita harus mengirimkan mail tentang pilihan dalam hidup, kita seringkali ragu. Kejadian-kejadian vulgar, kasar dan mengerikan acap terjadi dalam hidup ini, namun pembicaraan tentangnya seolah tertelan waktu, baik itu di lingkungan pendidikan atau kerja.

Jika Anda berpikir untuk forward artikel ini, kemungkinannya Anda akan memilih daftar orang-orang dari email address Anda yang Anda pikir layak untuk menerima email Anda. Ingatlah, bahwa orang yang mengirimi Anda artikel ini berpikir bahwa kita semua dapat membuat perbedaan.

Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup setiap harinya untuk dapat memahami ‘kejadian alami dalam hidup’. Begitu banyak hubungan antar 2 manusia yang kelihatan remeh, sebenarnya telah meninggalkan 2 pilihan bagi kita.

Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan atau, Apakah kita telah melewatkan kesempatan untuk berbagi kasih dengan mereka yang kurang beruntung, yang menyebabkan hidup ini menjadi dingin?

Courtesy: anonymous

Berapa Berat Segelas Air?


Pada Saat Kuliah Tentang Manajemen Stress, Stephen Covey Mengangkat Segelas Air Dan Bertanya Kepada Para Siswanya, “Seberapa Berat Menurut Anda, Kira-Kira Segelas Air Ini..?”

Para Siswa Menjawab Mulai Dari 200 Gram Sampai 500 Gram,
“Ini Bukanlah Masalah Berat Absolutnya..
Tapi Tergantung Berapa Lama Anda Memegangnya. .” Kata Covey,

“Jika Saya Memegangnya Selama 1 Menit..Tidak Ada Masalah..”
“Jika Saya Memegangnya Selama 1 Jam…Lengan Kanan Saya Akan Sakit..”

“Dan Jika Saya Memegangnya Selama 1 Hari Penuh.. Mungkin Anda Harus Memanggilkan Ambulans Untuk Saya..”

“Beratnya Sebenarnya Sama.. Tapi Semakin Lama Saya Memegangnya. . Maka Bebannya Akan Semakin Berat..”

“Jika Kita Membawa Beban Kita Terus Menerus.. Lambat Laun Kita Tidak Akan
Mampu Membawanya Lagi..”

“Beban Itu Akan Meningkat Beratnya..” Lanjut Covey, “Apa Yang Harus Kita Lakukan Adalah Meletakkan Gelas Tersebut.. Istirahat Sejenak Sebelum Mengangkatnya Lagi..”

“Kita Harus Meninggalkan Beban Kita Secara Periodik.. Agar Kita Dapat Lebih
Segar Dan Mampu Membawanya Lagi..”

“Jadi Sebelum Pulang Ke Rumah Dari Pekerjaan Sore Ini.. Tinggalkan Beban
Pekerjaan… .” “Jangan Bawa Pulang.. Beban Itu Dapat Diambil Lagi Besok..”

“Apapun Beban Yang Ada Di Pundak Anda Hari Ini.. Coba Tinggalkan Sejenak Jika
Bisa..” “Setelah Beristirahat. . Nanti Dapat Diambil Lagi..”

“Hidup Ini Singkat.. Jadi Cobalah Menikmatinya Dan Memanfaatkannya. .!”
“Hal Terindah Dan Terbaik Di Dunia Ini Tak Dapat Dilihat, Atau Disentuh..”
“Tapi Dapat Dirasakan Jauh Di Relung Hati Kita..!”

Catatan:
Demikian pula dengan stress, bila kita tidak mampu melepaskan sedikit demi sedikit, tentu anda dapat membayangkan apa yang akan terjadi ?!
Ini sempet terjadi ama diri gua sendiri.. Semua orang sampe kena marah kalo gua stres! hehe..

Andakah Pria Beruntung Itu??


Seringkali kita mendengar pria lebih memilih untuk melajang lebih lama dengan alasan alasan ekonomi. Lebih spesifiknya mungkin ingin punya rumah pribadi dulu, punya mobil dulu, punya gaji sekian juta dulu / beberapa ratus juta untuk sebuah pesta pernikahan. Karenanya, sebelum mencapai pernikahan, para pria bekerja ekstra keras mengumpulkan uang demi kemapanan. Ini tidak salah. Sudah selayaknya utk punya kehidupan yang aman secara finansial saat berumah tangga & memberikan kenyamanan bagi istri.

Tapi, pada saat kemapanan itu udah dimiliki, ada situasi yang bisa menjebak para pria. Saat seseorang pria sudah begitu kaya, maka semua jenis wanita akan datang kepada dia menawarkan cinta. Tapi, akhirnya semua menjadi suram, apakah mereka datang karena cinta / mencintai uang kita.

Sampai akhirnya sesuatu yang buruk terjadi, hingga kita menyesal kenapa kita bisa menjadi begitu kaya. Wanita mana yang tidak akan datang bila kamu begitu tampan, cerdas, kaya & muda? Semua ingin merasakan Jaguarmu, tidur di atas Tempur Pedicmu, tinggal di pent housemu & berdampingan dg pria berjas Kiton. Itu semua gambaran bahwa uang bisa memanipulasi perasaan & parahnya itu adalah uangmu!

Bila saat ini kamu memiliki mobil & seorang pacar, kamu tidak akan pernah tau, apakah wanita ini masih mencintaimu kalau suatu saat kamu hanya naik sepeda motor. Bagaimana kalo kamu gak lg punya rumah pribadi & hanya ada tempe di atas meja makan. Taukah kamu?

Tidak!!
Karena dia datang pada saat kamu bisa memberikannya kenyamanan finansial yang dia idamkan. Cintakah yang kamu punya? Bukan! Kamu hanya memiliki wanita yang mencintai kenyamanan yang bisa kamu sediakan.
Beruntunglah bagi pasangan yang telah menikah & mereka berdua memulainya dari bawah. Mensyukuri mobil mreka, karena mereka berdua pernah merasakan panas-hujan dengan sepeda motor. Menyenangi spring bed baru mereka, karena mereka berdua pernah tidur bersama di atas sebuah kasur busa kecil. Terharu dengan rumah pribadi mereka, karena dulu mereka pernah tinggal hanya di sebuah kost.

Beruntunglah para pria yang memiliki wanita yang begitu mencintai mereka & mendampingi kita di saat – saat berjuang menuju kehidupan yang lebih baik!



1000 Kelereng


Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.

Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.

Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.

“Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat”.

Ia melanjutkan : “Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”.

Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya. “Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting”.

“Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini”, sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati”.

“Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya”.

“Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu”.

“Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku befikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi”.

“Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!”

Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.

“Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan”.
“Lho, ada apa ini…?”, tanyanya tersenyum.
“Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial”, jawabku, “Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng.”

Have a great weekend and may all saturdays be special and may you have many happy years after you lose all your marbles.

Shared by Fr. Rick of Kingston, NY

Kisah Kura – kura


Ada satu keluarga kura-kura memutuskan untuk pergi bertamasya. Dasar kura-kura, dari sananya memang sudah serba lambat, untuk mempersiapkan piknik ini saja mereka butuhkan waktu 7 tahun.

Akhirnya keluarga kura-kura ini meninggalkan hunian mereka, pergi mencari tempat yang cocok untuk kegiatan piknik mereka. Baru di tahun ke dua mereka temukan lokasi yang sesuai dan cocok!

Selama enam bulan mereka membersihkan tempat itu, membongkari semua keranjang perbekalan piknik, dan membenahi tempat itu. Tiba-tiba mereka menyadari bahwa mereka lupa membawa garam. Waduh, sebuah piknik tanpa garam ? Mereka serempak berteriak. Ini bisa menjadi bencana luar biasa. Setelah panjang lebar berdiskusi, kura-kura termuda yang akhirnya diputuskan untuk mengambil garam di rumah mereka.

Meskipun ia termasuk kura tercepat dari semua kura-kura yang lambat, si kura-kura kecil ini merengek, menangis dan me-ronta-ronta dalam batoknya. Ia akhirnya setuju pergi dengan satu syarat bahwa tidak satupun boleh makan sampai ia kembali.

Keluarga kura-kura itu setuju dan sikura-kura kecil ini berangkatlah. Tiga tahun lewat dan kura-kura kecil itu masih juga belum kembali. Lima tahun….enam tahun…..lalu memasuki tahun ketujuh kepergiannya, kura-kura tertua sudah tak tahan menahan laparnya. Ia mengumumkan bahwa ia begitu lapar dan akan mulai makan dan mulai membuka rotinya.

Pada saat itu, tiba-tiba sikura kecil muncul dari balik sebatang pohon, teriaknya : “LIHAT TUHHHH! benar kan ? Aku tahu kalian memang tak akan menunggu. Ahhh, sekarang aku tak mau pergi mengambil garam !”

Moral cerita :
Beberapa dari kita memboroskan waktu sekedar menunggu ada orang lain yang melakukan pekerjaan kita. Demikian pula kita sering begitu kuatir dan prihatin, malah sering terlalu memperdulikan apa yang dikerjakan oleh orang lain, sehingga kita cuma berpangku tangan tanpa berbuat sesuatu sendiri.

Courtesy: anonymous

Kura – kura dan Kelinci


Setiap pagi, Kura-Kura Kecil berjalan kaki ke sekolah. Untuk tiba di sekolah yang berjarak satu kilometer dari rumahnya, kura-kura kecil membutuhkan waktu 2 jam berjalan kaki. Artinya, bila sekolah dimulai pukul tujuh, Kura-Kura Kecil harus berangkat tepat pukul lima pagi, agar tidak terlambat sampai di sekolah.

Suatu hari, terjadilah suatu kejaiban. Kura-Kura Kecil tiba di sekolah pukul tujuh kurang lima belas menit! Rupanya tanpa disadari ia berangkat lebih pagi dari biasanya. Atau jam di rumahnya lebih cepat lima belas menit. Entahlah. Yang penting, Kura-Kura Kecil jadi punya waktu untuk mengobrol dengan seekor Burung Hantu Tua yang tengah bertengger terkantuk-kantuk di dahan pohon.

“Selamat pagi, Wahai Burung Hantu Yang Terhormat!” sapa Kura-Kura Kecil, riang.

“Selamat pagi, Anak Manis. Kelihatannya kau cape sekali ya?” sahut si Burung Hantu Tua.

“Beginilah nasibku,” Kura-Kura Kecil berubah muram. “Aku terlahir sebagai kura-kura yang lamban. Jauh sebelum matahari terbit, aku harus bangun. Pukul lima tepat, aku harus sudah berangkat ke sekolah. Sedangkan kawanku, Si Kelinci yang tinggal di sebelah rumah, hanya perlu berlari selama lima menit ke sekolah. Jadi, setiba di sekolah aku sudah cape sekali. Sedangkan Si Kelinci masih segar bugar. Sungguh tidak adil!”

“Setahuku, usaha keras tidak mungkin sia-sia,” gumam Burung Hantu Tua sambil berpikir. “Coba ceritakan padaku, Anak Manis, apa saja yang kau jumpai sepanjang perjalananmu ke sekolah.”

“Banyak sekali,” keluh Kura-Kura Kecil. “Aku jadi tak tahu harus mulai dari mana. Misalnya, hari ini aku bertemu dengan Ular Sanca. Dulu aku takut padanya, tapi sekarang ia jadi temanku. Lalu, aku bertemu dengan sahabat lamaku Si Angsa yang baru kembali dari berlibur di Selatan. Tahukah kau, wahai Burung Hantu Yang Terhormat, rupanya di Selatan itu cuacanya selalu panas! Iklim tropis, begitu namanya. Setiap tahun, Angsa dan ribuan unggas lain pergi berlibur ke sana. Enak ya, mereka tidak harus mengalami musim dingin!”

Kini wajah Kura-Kura Kecil berseri-seri. Tiba-tiba, ia ingin bercerita lebih banyak lagi. Kura-Kura Kecil bercerita tentang bagaimana ia biasa mengamati tanda-tanda perubahan cuaca di langit, bagaimana ia bisa menumpang aliran sungai kecil ke sekolah bila musim hujan tiba, di mana bisa ditemukan buah ceri yang paling manis (ssst… ini rahasia!), bagaimana membedakan ular dan katak yang beracun dan yang tidak beracun, dan masih banyak lagi. Dan tahukah Burung Hantu Yang Terhormat, bagaimana asal mula terbentuknya angin lesus? Kura-Kura Kecil tahu, karena ia pernah melihat prosesnya secara langsung!

Burung Hantu Tua tersenyum. “Kau pandai sekali, Anak Manis. Rupanya 2 jam perjalanan ke sekolah tidak kau sia-siakan. Kau bersahabat dengan banyak binatang, serta mempelajari banyak hal.”

Kura-Kura Kecil tersentak. Ia tidak pernah menyadari, betapa beruntungnya ia. Tergesa ia mengucapkan selamat tinggal pada Burung Hantu Tua. Sekolah segera dimulai.

Si Kelinci sudah tiba, dan duduk tepat di samping Kura-Kura Kecil.

“Selamat pagi Si Kelinci sahabatku, apa saja yang kau lihat di sepanjang perjalanan tadi?” sapa Kura-Kura Kecil dengan ramah.

“Aku berlari kencang sekali sehingga tidak melihat apa-apa,” jawab Si Kelinci.

Guys, banyak dari kita yang gak pernah mensyukuri apa yang Tuhan kasih buat kita!

Bersyukurlah sama apa yang udah kita miliki.. Jangan pernah ngeliat apa yang gak kita miliki..